Konsep Guru / Pendidik Menurut Tokoh Islam

on Sabtu, 20 November 2010

I. PENDIDIKAN, GURU DAN PENDIDIK

Guru menurut bahasa memiliki arti orang yang mempunyai tugas mendidik. Guru bisa juga disebut pendidik. Sebelum kita memehami konsep guru yang lebih jelas kita bahas terlebih dahulu mengenai pendidikan, Apa sih pendidikan itu ? Pendidikan menurut Ahmad Tafsir adalah merupakan usaha menolong agar seseorang mampu menyelesaikan masalah yang di hadapinya. Jadi semua manusia itu masih menjalani pendidikan, sementara itu manusia tidak pernah tidak manghadapi masalah.J adi selama manusia itu menghadapi masalah, maka selama itu pula ia memerlukan pendidikan. (A.Tafsir,2000:39).

Pengertian pendidikan dalam arti kata ialah jalan. Maksudnya ialah jalan atau proses berjalannya hubungan pergaulan antara pendidik dan yang dididik, dan hubungan tersebut mempuyai tujuan tertentu, yang memungkinkan perubahan tingkah laku bagi si terdidik.

Guru merupakan pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah (UU tentang Guru dan Dosen, Bab I Pasal 1 ayat 1). Dari pengertian di atas jelas bahwa guru itu memiliki peranan yang strategis dan merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan kelembagaan sekolah, karena guru adalah pengelola KBM bagi para siswanya. Kegiatan belajar mengajar akan efektif apabila tersedia guru yang sesuai dengan kebutuhan sekolah baik jumlah, kualifikasi maupun bidang keahliannya.


II. DEFINISI
Guru (dari Sanskerta: गुरू yang berarti guru, tetapi arti secara harfiahnya adalah "berat") adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Dalam Surat Edaran (SE) Mendikbud dan Kepala BAKN No. 57686)/MPK/1989 menyatakan bahwa “guru adalah pegawai negeri sipil (PNS) yang diberi tugas, wewenang dan tanggungjawab oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah”. Sehingga pengertian pendidikan tersebut pada akhirnya menyangkut semua aspek kecerdasan.

Dalam paradigma Jawa , pendidik diidentikan dengan (gu dan ru) yang berarti “digugu dan ditiru”. Dikatakan digugu (dipercaya) karena guru mempunyai seperangkat ilmu yang memadai, yang karenanya ia memiliki wawasan dan pandangan yang luas dalam melihat kehidupan ini. Dikatakan ditiru (di ikuti) karena guru mempunyai kepribadian yang utuh, yang karenanya segala tindak tanduknya patut dijadikan panutan dan suri tauladan oleh peserta didiknya.

Sesungguhnya seorang pendidik bukanlah bertugas memindahkan atau mentransfer ilmunya kepada orang lain atau kepada anak didiknya. Tetapi pendidik juga bertanggungjawab atas pengelolaan, pengarah fasilitator dan perencanaan.

Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru.

III. PENDIDIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Dalam konteks pendidikan Islam “pendidik” sering disebut dengan ulama, murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, Keenam istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.

1. Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayom, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

2. Murabbi adalah: orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.

3. Mu’allim adalah: orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya sertamenjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, sekaligus melakukan transfer ilmu pengetahuan, internalisasi serta implementasi.

4. Mu’addib adalah: orang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggungjawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.

5. Mudarris adalah: orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya secara berkelanjutan, dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat , minat dan kemampuannya.

6. Mursyid adalah: orang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat anutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya.


IV. PENDIDIK DALAM PANDANGAN TOKOH ISLAM

Perihal tentang pendidik banyak dibicarakan oleh para pemuka muslim dari berbagai generasi, berikut sebagiannya.

A. Pendidik Menurut Syaikh Ahmad Ar Rifai

Dijuluki dengan Muhiyyudin dan Sayyid al-‘arifin (penghulu para ‘arif). Berasal dari Maghribi dan terlahir di Bathaih yang kemudian menjadi tempat tinggalnya. Tokoh Sufi besar yang selanjutnya menjadi pelopor tarikat sufi Rifa’iyah.

Syaikh Ahmad Ar Rifai mengungkapkan, bahwa seseorang bisa dianggap sah untuk dijadikan sebagai pendidik dalam pendidikan Islam apabila memenuhi dua kriteria berikut :

1. Alim yaitu mengetahui betul tentang segala ajaran dan syariahnya Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wassalam, sehingga ia akan mampu mentransformasikan ilmu yang komprehenshif tidak setengah-setengah.

2. Adil riwayat yaitu tidak pernah mengerjakan satupun dosa besar dan mengekalkan dosa kecil, seorang pendidik tidak boleh fasik sebab pendidik tidak hanya bertugas mentransformasikan ilmu kepada anak didiknya namun juga pendidik harus mampu menjadi contoh dan suri tauladan bagi seluruh peserta didiknya. Di khawatirkan ketika seorang pendidik adalah orang fasik atau orang bodoh, maka bukan hidayah yang diterima anak didik namun justru pemahaman-pemahaman yang keliru yang berujung pada kesesatan

B. Pendidik Menurut Syaikh Al-Ghazali

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir di Thus; 1058 / 450 H – meninggal di Thus; 1111 / 14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.

Menurut al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’la. Karena tujuan pendidikan Islam yang utama adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulumuddin mengungkapkan:

Pendidik itu mengurus tentang hati dan jiwa manusia. Sedangkan makhluk (Allah) yang paling utama di atas bumi adalah manusia. Bagian manusia yang paling utama adalah hatinya. Sedangkan seorang pendidik sibuk memperbaiki, membersihkan, menyempurnakan dan mengarahkan hati agar selalu dekat kepada subhanahu wa ta’la. Mengajarkan ilmu itu di satu sisi adalah ibadah kepada Allah Ta,ala. Dan di sisi lain merupakan tugas kekhalifahan Allah. Sebab Allah telah membukakan hati seorang alim untuk menerima suatu pengetahuan yang mana ilmu itu adalah sifat-sifat-Nya yang paling khusus/istimewa. Maka ia adalah seperti penjaga bagi gudang-Nya yang paling elok. Kemudian ia diberi izin untuk membelanjakannya dari padanya kepada setiap orang yang membutuhkannya. Maka derajat mana yang lebih tinggi dari seorang hamba yang menjadi perantara antara Tuhannya yang Maha Suci dengan makhluk-Nya dalam mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan menggiring mereka menuju surga sebagai tempat tinggal.

Yang mulia dari pekerjaan-pekerjaan yang empat ini adalah memfaidahkan ilmu dan membersihkan jiwa manusia dari perangai tercela dan membinasakan, lalu menunjukkan mereka kepada perangai (akhlak) yang terpuji dan menjadikan bahagia, itulah yang dimaksud pengajaran.

C. Pendidik Menurut Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun, nama lengkap: Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami (lahir 27 Mei 1332/732H, wafat 19 Maret 1406/808H) adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan).

Ibnu Khaldun ada mengungkapkan tiga langkah metode pengajaran:

1. Hendaklah diajarkan kepada murid pengetahuan yang bersifat umum dan sederhana, khusus berkenaan dengan pokok bahasan yang dipelajari. Pengetahuan ini hendaklah disesuaikan dengan taraf kemampuan intelektual murid, sehingga tidak berada di luar kemampuannya untuk memahami. Hendaklah murid belajar pada tingkatan pertama atau paling sederhana. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun “Ketika itu tercapailah suatu malakah baginya di dalam ilmu itu, meskipun bersifat lemah”. Ibnu Khaldun memandang langkah ini sebagai langkah pendahuluan bagi langkah kedua

2. Pendidik kembali mengajarkan pengetahuan tersebut kepada anak didiknya dalam taraf yang lebih tinggi dengan memetik intisari pelajaran, keterangan dan penjelasan yang lebih khusus. Dengan demikian pendidik dapat mengantarkan anak didiknya kepada taraf pemahaman yang lebih tinggi, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khaldun “maka menjadi baiklah malakahnya”

3. Pendidik mengajarkan pokok bahasan tersebut secara lebih terperinci dalam konteks yang menyeluruh, sambil memperdalam aspek-aspeknya dan menajamkan pembahasannya. Tidak ada lagi yang sulit dan penting yang tidak diterangkan. Begitu suatu ilmu selesai dipelajari, maka ilmu itu telah menjadi malakahnya

Walau bagaimanapun Ibnu Khaldun mengatakan sebahagian anak didik yang cerdas kadangkala hanya memerlukan dua langkah saja di dalam mengajar mereka, terutama jika pendidik berkemampuan tinggi.
Di sini jelas bahwa pendidikan Islam itu hendaklah diajarkan secara berperingkat. Oleh itu pelajaran yang disediakan haruslah mengambil kira tahap dan kemampuan murid agar setiap pelajaran yang diajarkan dapat dikuasai oleh murid dengan baik .

D. Pendidik Menurut Kh. Hasyim Asy’ari

Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy'arie (bagian belakangnya juga sering dieja Asy'ari atau Ashari) (10 April 1875 (24 Dzulqaidah 1287H)–25 Juli 1947; dimakamkan di Tebu Ireng, Jombang) adalah pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia.

Menurut Hasyim Asya’ri ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang pendidik islam, beberapa hal tersebut adalah adab atau etika bagi alim / para guru. Paling tidak menurut Hasyim Asy’ari ada dua puluh etika yang harus dipunyai oleh guru ataupun calon guru.

1. Selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dalam keadaan apapun, bagaimanapun dan dimanapun.

2. Mempunyai rasa takut kepada Allah, takut atau khouf dalam keadaan apapun baik dalam gerak, diam, perkataan maupun dalam perbuatan.

3. Mempunyai sikap tenang dalam segala hal.

4. Berhati-hati atau wara dalam perkataan,maupun dalam perbuatan.

5. Tawadhu, tawadhu adalah dalam pengertian tidak sombong, dapat juga dikatakan rendah hati.

6. Selalu berpedoman kepada Hukum Allah dalam segala hal.

7. Tidak menggunakan ilmunya hanya untuk tujuan duniawi semata.

8. Tidak rendah diri dihadapan pemuja dunia.

9. Zuhud, dalam segala hal.

10. Menghindari pekerjaan yang menjatuhkan martabatnya.

11. Menghindari tempat –tempat yang dapat menimbulkan maksiat.

12. Selalu menghidupkan syiar islam.

13. Menegakkan sunnah Rasul.

14. Menjaga hal- hal yang sangat di anjurkan.

15. Bergaul dengan sesama manusia secara ramah,

16. Menyucikan jiwa.

17. Terbuka untuk umum, baik saran maupun kritik.

18. Selalu mengambil ilmu dari orang lain tentang ilmu yang tidak diketahuinya.

19. Meluangkan waktu untuk menulis atau mengarang buku.

Dengan memiliki dua puluh etika tersebut diharapkan para guru menjadi pendidik yang baik, pendidik yang mampu menjadi teladan anak didik. Di sisi lain, ketika pendidik mempunyai etika, maka yang terdidik pun akan menjadi anak didik yang beretika juga, karena keteladanan mempunyai peran penting dalam mendidik akhlak anak. Untuk itu perlu kiranya para calon pendidik maupun yang telah menjadi pendidik untuk memiliki etika tersebut.

E. Pendidik Menurut Az-Zarnuji

Nama lengkapnya Tajuddin Nu’man bin Ibrahim Az-Zarnuji juga seorang ulama besar dan pengarang yang wafat tahun 640 H / 1242 M. Sedangkan wafatnya Syekh Az-Zarnuji yang salah satu karyanya adalah kitab Ta’lim Muta’allim yaitu sekitar tahun 593 H.

Dalam mengungkap sifat-sifat pendidik menurut Az-Zarnuji mengacu pada sumber data primer yaitu, Ta’alimul Muta’alim yang telah dirumuskan oleh Athiyah Al-Abrasi , dan sedikit ditopang dengan literatur lain yang berkaitan dengan masalah pendidik menurut Az-Zarnuji, secara umum sebagai berikut;

1. Pendidik hendaklah ikhlas dalam melaksanakan tugas, keikhlasan seorang pedidik dalam melaksanakan tugasnya merupakan sarana yang paling ampuh untuk kesuksesan peserta didiknya dalam proses belajar termasuk sikap ikhlas adalah pendidik dalam melaksanakan tugas sesuai yang ia katakan dan sesuai antara perilaku-perilakunya dengan perkataan-perkataan yang diucapkan, dengan hal yang demikian pendidik tidak merasa malu untuk mengatakan saya tidak tahu, apabila ia memang tidak mengetahui.

2. Pendidik harus memiliki sifat Zuhud dalam mengajar karena mencari ridho Allah, pendidik memiliki kedudukan yang mulia dan dimuliakan, pendidik memiliki tugas-tugas yang sesuai dengan kedudukannya, ia harus memiliki atau menjadi Zahid yang sesungguhnya.

3. Pendidik harus suci dan bersih, seorang pendidik hendaknya dalam hal ini suci badan dan anggota tubuhnya selalu terjaga dari perbuatan dosa, suci jiwanya dengan membebaskan diri dari perilaku sombong, riya, dengki, permusuhan, dan sifat tercela dan yang lainnya.

4. Pendidik harus memiliki sikap murah hati, seorang pendidik hendaknya bersifat penyantun, pemurah hati terhadap murid-muridnya mampu mengendalikan dirinya dari bersikap marah, bersikap lapang dada dan banyak bersabar.

5. Pendidik hendaknya memiliki adab yang baik, mendahulukan keteladanan dirinya, karena anak didik memperhatikan segala perilaku pendidiknya, telinga mereka pun setia mendengarkan. Apa yang menurut seorang pendidik baik, maka dimata mereka juga dianggap baik.

6. Pendidik memiliki sikap tegas dan terhormat, agar seorang pendidik menjadi lebih sempurna ia harus memiliki sikap yang tegas dan terhormat. Ia harus memiliki keistimewaan-keistimewaan agar ia dapat menjauhkan dirinya dari hal-hal yang jelek tidak membiasakan dirinya berteriak-teriak, dan banyak omong kosong. Dengan demikian, pendidik atau guru bukan sekedar gudang teori, tetapi juga seseorang yang ditiru dan diteladani, maka tidak boleh mengalihkan perkataan dan perbuatannya yang menyimpang karena ilmu itu diperoleh dengan pandangan hati.

7. Pendidik harus memiliki sikap kebapaan, seorang pendidik hendaknya menyayangi para muridnya sama dengan menyayangi anak-anaknya, dan memikirkan mereka sama seperti anak-anaknya. Berdasarkan prinsip Islam inilah, pendidikan modern sekarang ditegakkan, sehingga dapat dikatakan bahwa seorang pendidik lebih mencintai peserta didik daripada anak-anaknya.

8. Pendidik memahami karakter murid, pendidik hendaknya menguasai lautan dan memahami karakteristik dan kecenderungan para muridnya termasuk juga kebiasan, perasaan dan pikirannya. Ini dibutuhkan agar pendidik di dalam melaksanakan tugasnya tidak salah arah.

9. Pendidik harus menguasai materi pelajaran, dalam hal ini yang perlu diperhatika oleh pendidik adalah penguasaan materi yang akan diajarkan, dan oleh karena itu, pendidik harus terus menerus belajar. Ini menjadi sangat penting agar didalam proses belajar mengajar dan penyampaian pengajaran tidak terkesan bersifat monoton dan datar-datar saja.

Sifat-sifat di atas tersebut, masih dapat ditambah yang secara keseluruhan termasuk sifat yang primer atau mutlak. Sifat tambahan lainnya, seorang pendidik atau guru harus malakukan kerjasama dengan orang tua murid, terutama kepada peserta didik yang kurang mampu menerima materi pelajaran atau kelainan sifat dengan peserta didik yang lainnya.

F. Pendidik Menurut Abu Ishaq Al-Kannani

Abu Ishaq yang dilahirkan pada tahun 1254 adalah seorang pujangga, qadhi dan syaikh di Mesir yang mempunyai pemikiran di bidang pendidikan. Pemikiran pendidikannya diantaranya berhubungan dengan masalah etika. Dalam pandangannya seorang pendidik mempunyai etika terhadap dirinya sendiri, etika terhadap pelajaran yang diembannya, dan etika terhadap muridnya. Etika ini bisa dikembangkan dalam bentuk kode etik pendidikan dalam Islam.


V. KESIMPULAN

Oleh karena itu, fungsi dan tugas pendidik dalam pendidikan dapat disimpulkan menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Sebagai instruksional (pengajar), yang bertugas merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah disusun serta mengakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program dilakukan.

2. Sebagai edukator (pendidik), yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan dan berkepribadian kamil seiring dengan tujuan Allah SWT menciptakannya.

3. Sebagai managerial (pemimpin), yang memimpin, mengendalikan kepada diri sendiri, peserta didik dan masyarakat yang terkait, terhadap berbagai masalah yang menyangkut upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan dan partisipasi atas program pendidikan yang dilakukan.

Dalam tugas itu, seorang pendidik dituntut untuk mempunyai seperangkat prinsip keguruan. Prinsip keguruan itu dapat berupa:

1. Kegairahan dan kesediaan untuk mengajar seperti memperhatikan: kesediaan, kemampuan, pertumbuhan dan perbedaan peserta didik.

2. Membangkitkan gairah peserta didik

3. Menumbuhkan bakat dan sikap peserta didik yang baik

4. Mengatur proses belajar mengajar yang baik

5. Memperhatikan perubahan-perubahan kecenderungan yang mempengaruhi proses mengajar

6. Adanya hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar.

Kedudukan pendidik menurut Islam adalah mulia kerana mereka adalah penerus tugas Nabi shalallahu'alaihi wassalam dalam menyampaikan ilmu dengan berlandaskan Al-Quran dan As-Sunnahnya. Dengan demikian para pendidik wajiblah membentuk keperibadian yang luhur dan memiliki sifat-sifat yang terpuji sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam karena pendidik adalah qudwah dan juga uswah yang baik bagi anak-anak didiknya.


V. SUMBER PENULISAN

1. Drs. Rochidin Wahab, M.Pd, (2009), Ilmu Pendidikan Islam, Bandung, CV.Insan Mandiri
2. Website http://id.wikipedia.org
3. Website http://riwayat.wordpress.com/2008/07/07/etika-pendidik-islam-menurut-kh-hasyim-asy’ari/
4. Website http://blog.uin-malang.ac.id/sarkowi/2010/07/02/pendidik/
5. Website http://pmiingalah.wordpress.com/2010/07/11/antara-pendidik-dan-peserta-didik/
6. Website http://www.slideshare.net/rasidi/pendidik-islam
7. Website http://222.124.207.202/digilib/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptiain-jiptiain-jou-2003-alimudlofi-155&q=dalam
8. Website http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=706

3 komentar:

si abi mengatakan...

Thx nice, gan. Izin copas yah...

Anonim mengatakan...

makalah anda sangat baik.

Anonim mengatakan...

just 4 shared

Pendidikan adalah modal suatu bangsa, Guru (sanskrit) adalah manusia yang memberikan penerangan dan membuang kegelapan siswanya.

Suku kata Gu, berarti bayangan kegelapan,
Suku kata Ru, ia yang menyebar penerangan,
karena kekuatan untuk membubarkan kegelapan demikian arti nama Guru
(Advayataraka Upanishad 14.5)

Konsep pengajaran yang terkenal dalam kitab veda upanisad (2000SM) adalah guru-shishya (kesuksesan guru dan murid) yang terbagi atas beberapa konsep awal:
1) Pembentukan hubungan guru / murid
2) Sumpah guru, sebuah pengakuan formal dari hubungan guru-murid umumnya dalam sebuah upacara di mana guru menerima muridnya dan memulai menerima tanggung jawab untuk kesejahteraan rohani dan kemajuan murid baru.
3) Falsafah Esoterik (abadi), menyampaikan kebijaksanaan esoterik turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya
4) Gurudakshina, dimana bentuk terima kasih murid kepada guru atas ilmu yang diperoleh kadang dalam bentuk uang, pengabdian masyarakat atau hasil bumi atau bahkan rela memotong dan menyerahkan jarinya dalam kisah Ekalavya dan gurunya Dronacharya.

Guru harus memiliki kualitas berikut (Lebih detail baca Mundaka Upanishad 1.2.12):
1) Śrotriya - harus memahami kitab suci Veda dan sampradaya.

2) Brahmanişţha - harus menyadari keesaan Tuhan dalam segala hal dan didalam-nya, yakni dengan melayani dengan segala kerendahan hati tanpa membeda-bedakan agama/kepercayaan/keyakinan sehingga segala keraguan dapat dihapus.

Masih banyak kebijaksanaan Hindu tentang Guru yang dapat dibaca dalam kitab veda.

Poskan Komentar